Selasa, 24 November 2009

makalah sastra indonesia

MODALITAS
DALAM BAHASA SIMALUNGUN[1]
Dra.Anita Purba.M.Hum[2]

Abstrak
Modalitas ialah sikap pembicara yang dinyatakan secara gramatikal, bukan secara leksikal terhadap apa yang dikemukakan dalam tuturannya. Perbedaan pemaparan tentang modalitas dalam berbagai bahasa sangat bervariasi. Modalitas dalam bahasa Simalungun banyak dinyatakan dengan kata dan hanya sebagian dinyatakan dengan frasa. Kata-kata atau frasa yang menyatakan modalitas itu disebut penanda modalitas. Penanda modalitas dalam Bahasa Simalungun dikelompokkan menjadi empat yakni : penanda modalitas intensional, penanda modalitas epistemik, penanda modalitas deontik, dan penanda modalitas dinamik. Penegasian pada penanda modalitas dilakukan dengan kata negasi ulang , lang dan seng yang diletakkan di depan penanda modaliats yang bersangkutan.
Kata kunci : grammatikal, modalitas.


I.Pendahuluan.
Bahasa Simalungun adalah bahasa yang dipakai oleh suku Simalungun yang merupakan salah satu subsuku dari suku Batak. Namun ada juga suku lain yang diluar suku Simalungun menggunakan bahasa Simalungun khususnya yang berdomisili di daerah Simalungun ataupun yang melakukan kawin campur dengan suku Simalungun. Secara geografi suku Simalungun terdapat di Provinsi Sumatera Utara, dan pada umumnya mereka berdiam di daerah Kabupaten Simalungun. Namun ada juga yang tinggal di daerah lain seperti Kabupaten Karo, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Asahan.
Penulisan dan penelitian mengenai bahasa Simalungun belum begitu banyak dilakukan dibandingkan dengan pembahasan bahasa subsuku Batak lainnya. Khusus pembahasan bidang Semantik bahasa Simalungun masih jarang ditulis dan kalaupun ada masih sangat sedikit. Pada pembahasan ini akan dicoba dijelaskan tentang Modalitas yang ada ditemukan dalam bahasa Simalungun.
Yang dimaksud dengan modalitas ialah sikap pembicara terhadap apa yang dikemukakan dalam tuturannya (Alwi, 1992:5). Sikap itu tidak dinyatakan secara gramatikal, tetapi dinyatakan secara leksikal.

Modalitas oleh Saeed (1997:125) dirumuskan sebagai
Modality is a cover term for devices which allow speakers to express varying degrees of commitment to, or belief in, a proposisi. John I.Saeed- Semantics. page 125 , thn 1997.

‘keseluruhan istilah yang berfungsi sebagai alat bagi pembicara untuk mengungkapkan berbagai jenis tingkatan komitmen atau keyakinannya dalam satu proposisi’.

Perbedaan pandangan dan tafsiran terhadap ‘sikap pembicara’ itu terlihat pula pada pemberian istilah, dimana Alwi (1992) membagi hanya dalam satu istilah yaitu modalitas yang terbagi dalam empat kategori yaitu modalitas intensioanal, modalitas epistemik, modalitas deontik dan modalitas dinamis, sedangkan Saeed (1997) membaginya dalam dua pembagian yaitu modalitas dan evidensial.

II. Masalah dan Tujuan
Masalah.
Perbedaan pemaparan oleh para ahli-ahli bahasa tentang modalitas dalam berbagai bahasa sangat bervariasi. Hal ini membuat sulit untuk menentukan yang mana yang sesuai digunakan dalam operasional perumusan modalitas dalam bahasa Simalungun.
Setelah melihat data yang tersedia maka dapat diidentifikasi bahwa modalitas bahasa Simalungun berbeda dibandingkan modalitas bahasa daerah lain misalnya modalitas bahasa Jawa yang sudah mempunyai referensinya. Jadi alangkah lebih baik mengikuti langkah Hasan Alwi tentang modalitas bahasa Indonesia yang merupakan Bahasa nasional atau induk dari bahasa –bahasa daerah yang ada di Indonesia termasuk bahasa Simalungun.
Hal ini juga terkesan dalam perbendaharaan bahasa daerah yang sebagian bersumber dari bahasa Indonesia .
Tujuan
Sesuai dengan adanya permasalahan tersebut di atas, maka tulisan ini bertujuan sebagai berikut.
1. Mengidentifikasikan kata-kata dan frasa yang digunakan sebagai modalitas dalam bahasa Simalungun.
2. Mendiskripsikan modalitas dalam bahasa Simalungun yang ada dalam bentuk kata-kata dan frasa .
3. Menjelaskan makna modalitas yang ada dalam bahasa Simalungun.

III. Tinjauan Pustaka.
Ada banyak buku yang menjelaskan pengertian atau tafsiran tentang modalitas dalam berbagai bahasa. Pada pembahasan ini penulis mengambil pengkategorian modalitas menurut Hasan Alwi yang membagi modalitas mencakup empat subkategori yaitu modalitas Intensinal, modalitas Epistemik, modalitas Deontik dan modalitas Dinamik (hal 22).
Kategori modalitas Intensional terdiri dari sub kategori modalitas Keinginan, Harapan, Ajak, Pembiaran, Permintaan, Persilaan, dan Persetujuan.
Kategori modalitas Epistemik terdiri dari sub kategori modalitas Kemungkinan, Keteramalan, Keharusan, Kepastian .
Kategori modalitas Deontik terdiri dari sub kategori modalitas Izin, dan Perintah.
Kategori modalitas Dinamik hanya terdiri dari sub kategori modalitas Kemampuan

IV. Metodologi
Pembahasan ini menggunakan data bahasa Simalungun yang diambil dari beberapa sumber secara lisan dan tulisan. Sumber tertulis berasal dari pemberian angket kepada beberapa informan dengan ciri sebagai berikut : adalah mahasiswa suku Simalungun, tinggal di Kabupaten Simalungun, dan dalam kesehariannya menggunakan bahasa Simalungun.
Adapun bentuk angket tersebut yaitu daftar yang terdiri dari kalimat yang memakai modalitas bahasa Inggris dan modalitas bahasa Indonesia. Kemudian para informan dianjurkan mencari padanan modalitas tersebut dalam bahasa Simalungun.
Untuk melihat ada tidaknya modalitas penulis juga membaca data tulisan yaitu buku ’Folklore Simalungun’ kemudian menandai atau mencurigainya, dan menuliskannya dalam daftar dan kemudian menentukan apakah data tersebut modalitas atau tidak dengan melihat ciri-cirinya. Sementara itu, penulis juga sebagai penutur asli bahasa Simalungun yang bertindak menjadi narasumber juga.
Namun, data yang didapat secara lisan dan tulisan dianggap sebagai data sementara yang masih perlu dicari kebenarannya dengan bertanya kepada beberapa informan atau melalui pengamatan langsung.
Selanjutnya setelah diyakini bahwa data tersebut adalah modalitas maka diklasifikasikanlah menurut jenis kategori modalitasnya dan setiap kategori diklasifikasikan lebih lanjut menurut subkategorinya. Pengungkapan yang dipakai hanya merupakan pengungkapan dalam kalimat.

V. Hasil dan Pembahasan.
1.Modalitas Intensional
Modalitas Intensional adalah bahasa yang digunakan pembicara untuk menyatakan sikapnya terhadap peristiwa nonaktual yang diungkapkannya. Modalitas seperti ini juga ada dalam bahasa Simalumgun, misalnya jika seseorang ingin menyatakan keinginnannya maka pembicara memakai modalitas. Seperti dapat dilihat dalm contoh berikut.
Au marosuh mangan gule. ‘Aku ingin makan gulai’.
Dengan mendengar keinginan itu, pendengar atau teman bicara terdorong untuk mengaktualisasikan apa yang diungkapkan pembicara, misalnya dengan memberikan apa yang diinginkan pembicara. Penanda modalitas ’keinginanan’ dalam bahasa Simalungun ialah kata marosuh dan masihol yang bermakna ’ingin’.

1.1 Keinginan
Penanda modalitas ’keinginan’ dalam bahasa Simalungun ialah kata verba marosuh dan masihol ’ingin’.
Au marosuh ham mandodingkon ai
Au masihol ham mandodingkon ai
Aku ingin kamu yang menyanyikannya.
Posisi verba marosuh dan masihol juga lazim ditempatkan di awal kalimat sebelum subjek.
Marosuh au ham mandodingkon ai
Masihol au ham mandodinkon ai.
Ingin aku kamu yang menyanyikannya
Kata marosuh dan masihol yang berfungsi menunjukkan keinginan sering diikuti kata uhur ’hati’ atau ’perasaan hati’ yang membentuk frasa. Posisi kata-kata tersebut juga bisa saling bergantian. 
Marosuh uhurhu ham mandodingkon ai
Masihol uhurhu ham mandodingkon ai
Ingin hatiku kamu yang menyanyikannya.
Uhurhu marosuh ham mandodingkon ai.
Uhurhu masihol ham mandodingkon ai
Hatiku ingin kamu yang menyanyikannya.
Kata /frasa uhur atau nini uhurhu bisa juga berdiri sendiri tanpa ada kata marosuh atau masihol yang berfungsi menyatakan keinginan.
Uhurmu ham ma mandodingkan ai
Hatiku mau kamu yang menyanyikannya
Piga dokah nini uhurmi au mangkorjahon ai
Berapa lama keinginanmu aku mengerjakan itu.
Kata marosuh dan masihol ’menginginkan’ dapat juga disingkat dengan kata rosuh dan sihol ’ingin’adalah kata yang menjelaskan suasana hati sepert contoh ini
Rosuh do uhur hu ham mandodingkon ai
Sihol do uhur hu ham mandodingkon ai
Uhurhu namin ham ma mandodingkon ai
Ingin hatiku kamu yang menyanyikannya.
Pemberian suffik -an untuk kata rosuh dan sihol dapat digunakan untuk mengungkapkan keinginan yaitu rosuhan dan siholan yang bermakan ’lebih ingin’. Hal ini dapat dilihat dalm contoh berikut.
Rosuhan do uhur hu ham mandodingkon ai
Siholan do uhur hu ham mandodingkon ai.
Aku lebih ingin kamu yang menyanyikannya.
Bagian tuturan yang dikenai negasi adalah kata/frasa yang menyatakan modalitas. Penegasian kata-kata itu ialah dengan kata seng, lang ’tidak’. Lang dan seng digunakan dengan kata marosuh sedangkan kata masihol disingkat menjadi kata sihol. Misalnya dalam kalimat berikut:
Au lang/ seng marosuh modom
. Au lang / seng sihol modom
Aku tidak ingin tidur
Lang / seng marosuh au modom
Lang / seng sihol au modom
Tidak ingin aku tidur
Kalimat yang mempunyai kata/frasa uhur atau uhurhu untuk menunujukkan keinginan , penegasiannya tetap dengan kata lang atau seng dan posisinya sebelum kata marosuh atau masihol.
Lang /seng marosuh uhurhu modom
Lang / seng sihol uhurhu modom
Tidak ingin hatiku tidur.
Uhurhu lang / seng marosuh modom
Uhurhu lang / seng sihol modom
Hatiku tidak ingin tidur


1.2.Harapan
Modalitas ’harapan’ dinyatakan dengan verba dan adverbia . Verba yang menyatakan modalitas ’harapan’ yaitu kata/frasa arap, mangarap atau mangarapkon . 
Arap do uhurhu ham sehat
Harap hatiku anda sehat
Au mangarap ham sehat
Aku berharap anda sehat
Au mangarapkon ham sehat
Aku lebih berharap anda sehat

Adverbia yang menyatakan harapan adalah kata andohar yang bermakna ’semoga’, dan khusus kata andohar tidak mendapat negasi
Andohar ma ham sehat
Semoga kamu sehat 
Penanda modalitas harapan yang dapat dinegasikan adalah yang dinyatakan dengan verba. Yang dinyatakan dengan adverbia tidak dinegasikan.
Au lang / seng mangarap ham sehat
Au lang / seng mangarapkon ham sehat
Aku tidak berharap / mengharap kamu sehat.

1.3 Ajakan
’Ajakan ’adalah ungkapan pelaku terhadap tindakan yangg ditujukan terhadap persona kedua atau teman bicara. Dalam bahasa Simalungun, ajakan biasanya dinyatakan dengan kata eta ’ ayo’atau ’ayolah’. Kata eta hanya dapat diikuti oleh persona kedua tunggal ham ’anda’ dan persona pertama jamak hita ’kita’.
Eta ham marsoban
Ayo anda? mencari kayu
Eta (ma) hita marsoban
Ayo(-lah) kita mencari kayu
Eta (ma) mangan inang
Ayo(-lah) makan bu.
1.4 Pembiaran
‘Pembiaran’ adalah ungkapan sikap pembicara untuk menghentitkan perbuatan yang akan dilakukan oleh teman bicara karena pembicara tidak menghendaki perbuatan itu tetapi tidak diucapkan secara nyata. Kata kata pembiaran yang digunakan dalam bahasa Simalungun adalah verba paturut dan pasombuh.
Paturut ham ma ia mangan
Pasombuh ham ma ia mangan
Biarkanlah ia makan.
Penegasian modalitas pembiaran hanya menambah kata ulang / seng sebelum verba paturut atau pasombuh.
Ulang / seng paturut ham ia mangan lobeinan.
Ulang / seng pasombuh ham ia mangan lobeinan.
Jangan biarkan dia makan lebih dulu.

1.5 Permintaan /Persilaan
’Permintaan’ atau persilaan menggambarkan sikap pembicara yang menghendaki teman bicara atau orang lain melakukan sesuatu. ’Permintaan’ atau ’persilaan’ ada yang seperti ’perintah’ dengan hanya menekan atau mempertegas verba dengan kata ma / nema . Dalam mengungkapkan kata/frasa permintaan atau persilaan membutuh intonasi yang lebih lembut dan lambat dibanding dengan kalimat biasa.
Basa ma, buku in 
Bacalah buku itu
Nema, basa buku in
Ayolah baca buku itu
Penambahan kata hon pada kalimat sebelumnya sedikit lebih memaksakan kehendak pembicara untuk orang lain melakukannya segera.
Basahon ma buku in.
Bacakanlah buku itu
‘Pembiaran’ atau ‘persilaan’ akan menjadi halus apabila ditambah dengan kata lobei dan lojo yang bermakna ‘dulu’
Basahon ma lobei buku in.
Basahon ma lojo buku in.
Bacakanlah dulu buku itu.
1.6 Persetujuan
‘Persetujuan’ menggambarkan sikap pembicara yang dengan sukarela menyetujui sesuatu yang akan dilakukan oleh teman bicara.
Kata yang sering digunkan dalam bahasa Simalungun adalah dear, kadang kala kata dear ditambah dengan kata/frasa lain seperti - ma, - ma anggo sonai untuk memperjelas persetujuan pembicara 
Dear ma ai, patar hita mulak.
Baiklah itu, besok kita pulang.
Dear ma anggo sonai, patar hita mulak
Baiklah kalau begitu, besok kita pulang

2.Modalitas Epistemik.
Modalitas Epistemik ialah sikap pembicara yang didasari oleh keyakinan atau kekurang yakinannya terhadap kebenaran satu proposisi. Hal seperti ini juga ada terdapat dalam bahasa Simalungun misalnya,
Ra ma roh sidea tongkin nari
Mungkin datang mereka sebentar lagi. 
Sikap pembicara yang didasari oleh kekurangyakinan terhadap kebenaran proposisi dapat menimbulkan: kemungkinan, keteramalan, keharusan dan kepastian.

2.1.Kemungkinan
Makna modalitas kemungkinan dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan kata ra atau hira yang berarti ’mungkin’atau ’perkiraan’ 
Ra boi do inang roh patar
Hira boi do inang roh patar
Mungkin bisanya mamak datang besok

Patar boi do ra inang roh
Besok bisanya mungkin mamak datang
Penegasian modalitas epistemik kemungkinan dalam bahasa Simalungun digunakan kata lang dimana kata lang / seng dipakai sebelum kata ra atau hira.
Lang / seng ra boi inang roh patar
Tidak mungkin bisa mamak datang besok
Patar lang / seng ra boi inang roh besok
Besok tidak mungkin bisa mamak datang


2.2.Keteramalan
’Keteramalan’ mencerminkan sikap pembicara yang lebih yakin terhadap ’kebenaran’ proposisi daripada ’kemungkinan’. Atau dengan kata lain ’kemungkinan’ menggambarkan sikap pembicara yang lebih ragu terhadap’kebenaran’. Dalam bahasa Simalungun ’keteramalan’ ditandai dengan kata hira, agat ,arap dan ahap yang bermakna ’ramalan’ atau ’perkiraan .’
Hu hira domma puho bapa.
Hu agat domma puho bapa
Hu arap domma puho bapa
Hu ahap domma puho bapa
Aku kira sudah bangun bapak
Penegasian untuk kata hira, agat, arap, ahap, hanya menambah kata lang / seng yang dipakai sebelum verba.
Lang / seng hu hira domma puho bapa.
Lang / seng hu agat domma puho bapa
Lang / seng hu arap domma puho bapa
Lang / seng hu ahap domma puho bapa
Tidak aku kira sudah bangun bapak

2.3.Keharusan
Modalitas epistemik ’keharusan’ dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan keterangan menjelaskan verba, atau inti dari predikat, seperti kata maningon yang berarti ’harus’ patut dan porlu yang berarti mestinya. Kata maningon lebih keras daripada kata patut dan porlu. Hal ini nampak dalam contoh berikut.
Maningon marsahap do hanami.
Kami harus berbicara.
Ai maningon podas do suang use ai.
Itu harus cepat kembali lagi
Patut do ham roh
Porlu do ham roh
Mestinya anda datang
Penegasian untuk kata maningon, patut dan perlu hanya menambahkan kata lang / seng sebelum kata-kata tersebut.
Lang / seng maningon roh ham.
Tidak harus datang anda
Lang/ seng patut ham roh
Lang / seng porlu ham roh
Tidak mestinya anda datang
2.4.Kapastian
‘Kepastian’ menggambarkan sikap pembicra yang merasa pasti atau yakin bahwa proposisi yang diungkapkannya benar. Kepastian adalah modalitas epistemik yang paling tinggi tingkat rasa ‘pasti’ atau ‘yakin’ pembicara, dibanding yang lain seperti ‘kemungkinan’, ‘keteramalan’ dan ‘keharusan’. Dalam bahasa Simalungun kata pasti sering dipakai untuk menyatakan kepastian atau keyakinan, dimana kata pasti juga mungkin berpengaruh dari bahasa Indonesia. Sama seperti kata tontu yang berasal dari kata’tentu’ dalam bahasa Indonesia.
Pasti do ia mulak patar
Tontu do ia mulak patar
Pasti dia kembali besok.
Selain kata pasti dan tontu diatas ada lagi kata/frasa yang menunjukkan kepastian yaitu kata pos yang sering diikuti kata uhur (hati/heart yang berhubungan dengan perasaan) atau porsaya yang mungkin berasal dari kata ‘percaya’.
Pos ma uhurmu mulakk do ia patar
Porsaya ma ham mulak do ia patar
Yakinlah dia kembali besok
Kadangkala kalimat di atas di ikuti lagi ole kata pasti (redundant), yang menyatakan tingkat keyakinan yang paling tinggi.
Pos ma uhur mu pasti do ia mulak patar
Porsaya ma ham pasti do ia mulak patar
Yakinlah pasti dia kembali besok
Penegasian kepastian dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan menambah lang seng pada modalitas pasti, tontu, dan kata ulang untuk kata/frasa pos uhur dan porsaya berarti ‘jangan’.
Lang / seng pasti ia mulak patar
Lang / seng tontu ia mulak patar
Tidak pasti dia kembali besok.
Lang pos uhurhu mulak ia patar
Lang porsaya uhurhu mulak ia patar
Aku tidak yakin dia kembali besok
Ada pengungkap ketidak yakinan dalam bahasa Simalungun yang dinyatakan dengan kata gobir dan sangsi, dimana kata kata tersebut dapat berdiri sendiri, tidak memakai negasi lang tetapi mengandung makna negative.
Gobir do uhurmu bangku
Sangsi do ham bangku
Tidak yakinnya anda sama saya.

3.Modalitas Deontik
Kaidah sosial berupa kewenangan pribadi atau kewengan resmi dapat mendasari sikap pembicara terhadap peristiwa disebut dengan modalitas deontik. Kewenangan pribadi ditimbulkan oleh adanya perbedaan usia, jabatan, atau status sosial, sedangkan kewenangan resmi berasal dari ketentuan atau peraturan yang telah disepakati bersama.
Dengan demikian, pembicara berperan sebagai sumber deontik yang mengizinkan, memerintahkan atau melarang terjadinya suatu peristiwa atau perbuatan. Hal itu dapat dilihat pada contoh berikut.
Hu bere ma hanimi mulak parlobei
Ku izinkanlah kalian pulang duluan

3.1.Izin
Izin memperlihatkan ciri makna yang menggambarkan bahwa teman bicara akan berperan sebagai pelaku, tetapi dalam bahasa Simalungun hal itu dapat dilakukan orang kedua atau ketiga. Pengungkapan modalitas izin ini diberi penanda dengan kata bere, paturut.
Bere ma au laho hu tiga
Paturut ma au laho hu tiga 
Izinkanlah saya pergi ke pekan
Bere ma ia laho hu tiga
Paturut ma ia laho hu tiga
Izinkanlah dia pergi ke pekan 
Penegasian modalitas izin ini hanya menambahkan kata ulang sebelum modalitas yang berarti tidak memberi izin atau larangan.
Ulang bere ia laho hu tiga
Ulang paturuti ia laho hu tiga
Jangan izinkan dia pergi ke pekan
Ulang bere ia laho hu tiga
Ulang paturut ia laho hu tiga
Jangan izinkan dia pergi ke pekan
3.2.Perintah
‘Perintah’ memperlihatkan persaman dengan ‘izin’ dalam hal kedudukan pembicara sebagai sumber deontik dan kedudukan teman bicara sebagai pelaku aktualisasasi peristiwa. Pengungkapannya berbeda karena ‘perintah’ dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan kalimat imperative.
‘Perintah’ tidak hanya diartikan sebagai ‘perintah untuk melakukan sesuatu’, tetapi juga sebagai ‘perintah untuk tidak melakukan sesuatu’ yang disebut ‘larangan’.
Kata yang dipakai untuk melarang dalam bahasa Simalungun ialah kata ulang yang bermakna ‘jangan’, seperti contoh :
Ulang jolom boras in
Jangan pegang beras itu

4.Modalitas Dinamik
Sama halnya dengan modalitas deontik, modalitas dinamik juga mempersoalkan sikap pembicara terhadap aktualisasi peristiwa. Akan tetapi, pada modalitas dinamik aktualisasi pristiwaitu ditentukan oleh perikeadaan yang bersifat empiris,sedangkan pada modalitas deontik ialah kaidah sosial. Jadi modalitas dinamik bersifat objektif dan modalitas deontik berciri subjektif. Ciri makna yang demikian ada dalam bahasa Simalungun yang tampak pada pemakaian kata boi, sanggup dimana kata sanggup mungkin juga pengaruh dari bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dalam contoh berikut.
Boi do bana paluah dirina
Sanggup do bana paluah dirina
Dia dapat melepaskan dirinya
4.1 Kemampuan
Kemampuan pada modalitas dinamik dapat dinyatakan dengan pemakain kata boi, sanggup dan bulih . Kata bulih hanya dipakai untuk makna negasi yang bermakna ’tidak boleh’.
Boi do ipalopus si Jonaha batu ai hulopahhulopah
Sanggup do ipalopus si Jonaha batu ai hulopahlopah
Si Jonaha dapat menyeberangkan batu itu ke sebelah kanan dan kiri 
Penegasian modalitas kemampuan hanya dengan menambah kata lang /seng pada kata modalitas kemampuan.
Lang / seng boi ipalopus si Jonaha batu ai hulopahhulopah
Lang / seng sanggup ipalopus si Jonaha batu ai hulopahlopah
Lang / seng bulih ipalopus si Jonaha batu ai hulopahlopah
Si Jonaha tidak dapat menyeberangkan batu itu ke sebelah kanan dan kiri.


VI. Kesimpulan Dan Referensi.
Kesimpulan.
Dari pembahasan modalitas dalam bahasa Simalungun ini dapat disimpulkan bahwa modalitas dalam bahasa Simalungun √°dalah sebagai berikut.
1. Modalitas dalam bahasa Simalungun sebagian dinyatakan dengan kata. Selain itu, modalitas dalam bahasa Simalungun ada yang dinyatakan dengan frasa, tetapi jumlahnya hanya beberapa tidak sebanyak yang dinyatakn dengan kata. Kata-kata atau frasa yang menyatakan modalitas itu disebut penanda modalitas.
2. Penanda modalitas itu dikelompokkan menjadi empat yakni (1) penanda modalitas intensional, (2) penanda modalitas epistemik, (3) penanda modalitas deontik, dan (4) penanda modalitas dinamik.

(1). Modalitas Intensional
No. Makna Pengungkap modalitas
1.keinginan
ingin marosuh
masihol
ingin hatiku marosuh uhurhu
masihol uhurhu
hatiku ingin uhurhu marosuh 
uhurhu masihol
kata hatiku nini uhurhu
inginnya hatiku rosuh uhurhu
sihol uhurhu
lebih ingin rosuhan uhurhu
siholan uhurhu

2. harapan
(ber)harap arap
berharap mengarap
lebih berharap mengarapkon
semoga andohar
3. ajakan
ayo eta
4. pembiaran
biarkan paturut 
pasombuh
5. permintaan
ayolah nema
- ma
- hon
6. persetujuan
baiklah dear ma

(2). Modalitas Epistemik
No Makna Pengungkap modalitas
1. kemungkinan
mungkin hira / ra
2. keteramalan
perkiraan / kira hira
agat
arap
ahap
3.keharusan 
harus maningon
mestinya patut
porlu 
4.kepastian
pasti pasti
tontu
yakin pos uhur
percaya porsaya


(3). Modalitas Deontik
No Makna Pengungkap modalitas
1. izin
izinkan bere
paturut

(4). Modalitas Dinamik
No Makna Pengungkap modalitas
1. kemampuan 
dapat boi
sanggup sanggup
tidak dapat lang / seng bulih

C. Penegasian pada penanda modalitas dilakukan dengan kata negasi ulang , lang dan
seng yang diletakkan di depan penanda modaliats yang bersangkutan. Kata ulang juga bisa berarti ’jangan’.
MODALITAS
DALAM BAHASA SIMALUNGUN[1]
Dra.Anita Purba.M.Hum[2]

Abstrak
Modalitas ialah sikap pembicara yang dinyatakan secara gramatikal, bukan secara leksikal terhadap apa yang dikemukakan dalam tuturannya. Perbedaan pemaparan tentang modalitas dalam berbagai bahasa sangat bervariasi. Modalitas dalam bahasa Simalungun banyak dinyatakan dengan kata dan hanya sebagian dinyatakan dengan frasa. Kata-kata atau frasa yang menyatakan modalitas itu disebut penanda modalitas. Penanda modalitas dalam Bahasa Simalungun dikelompokkan menjadi empat yakni : penanda modalitas intensional, penanda modalitas epistemik, penanda modalitas deontik, dan penanda modalitas dinamik. Penegasian pada penanda modalitas dilakukan dengan kata negasi ulang , lang dan seng yang diletakkan di depan penanda modaliats yang bersangkutan.
Kata kunci : grammatikal, modalitas.


I.Pendahuluan.
Bahasa Simalungun adalah bahasa yang dipakai oleh suku Simalungun yang merupakan salah satu subsuku dari suku Batak. Namun ada juga suku lain yang diluar suku Simalungun menggunakan bahasa Simalungun khususnya yang berdomisili di daerah Simalungun ataupun yang melakukan kawin campur dengan suku Simalungun. Secara geografi suku Simalungun terdapat di Provinsi Sumatera Utara, dan pada umumnya mereka berdiam di daerah Kabupaten Simalungun. Namun ada juga yang tinggal di daerah lain seperti Kabupaten Karo, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Asahan.
Penulisan dan penelitian mengenai bahasa Simalungun belum begitu banyak dilakukan dibandingkan dengan pembahasan bahasa subsuku Batak lainnya. Khusus pembahasan bidang Semantik bahasa Simalungun masih jarang ditulis dan kalaupun ada masih sangat sedikit. Pada pembahasan ini akan dicoba dijelaskan tentang Modalitas yang ada ditemukan dalam bahasa Simalungun.
Yang dimaksud dengan modalitas ialah sikap pembicara terhadap apa yang dikemukakan dalam tuturannya (Alwi, 1992:5). Sikap itu tidak dinyatakan secara gramatikal, tetapi dinyatakan secara leksikal.

Modalitas oleh Saeed (1997:125) dirumuskan sebagai
Modality is a cover term for devices which allow speakers to express varying degrees of commitment to, or belief in, a proposisi. John I.Saeed- Semantics. page 125 , thn 1997.

‘keseluruhan istilah yang berfungsi sebagai alat bagi pembicara untuk mengungkapkan berbagai jenis tingkatan komitmen atau keyakinannya dalam satu proposisi’.

Perbedaan pandangan dan tafsiran terhadap ‘sikap pembicara’ itu terlihat pula pada pemberian istilah, dimana Alwi (1992) membagi hanya dalam satu istilah yaitu modalitas yang terbagi dalam empat kategori yaitu modalitas intensioanal, modalitas epistemik, modalitas deontik dan modalitas dinamis, sedangkan Saeed (1997) membaginya dalam dua pembagian yaitu modalitas dan evidensial.

II. Masalah dan Tujuan
Masalah.
Perbedaan pemaparan oleh para ahli-ahli bahasa tentang modalitas dalam berbagai bahasa sangat bervariasi. Hal ini membuat sulit untuk menentukan yang mana yang sesuai digunakan dalam operasional perumusan modalitas dalam bahasa Simalungun.
Setelah melihat data yang tersedia maka dapat diidentifikasi bahwa modalitas bahasa Simalungun berbeda dibandingkan modalitas bahasa daerah lain misalnya modalitas bahasa Jawa yang sudah mempunyai referensinya. Jadi alangkah lebih baik mengikuti langkah Hasan Alwi tentang modalitas bahasa Indonesia yang merupakan Bahasa nasional atau induk dari bahasa –bahasa daerah yang ada di Indonesia termasuk bahasa Simalungun.
Hal ini juga terkesan dalam perbendaharaan bahasa daerah yang sebagian bersumber dari bahasa Indonesia .
Tujuan
Sesuai dengan adanya permasalahan tersebut di atas, maka tulisan ini bertujuan sebagai berikut.
1. Mengidentifikasikan kata-kata dan frasa yang digunakan sebagai modalitas dalam bahasa Simalungun.
2. Mendiskripsikan modalitas dalam bahasa Simalungun yang ada dalam bentuk kata-kata dan frasa .
3. Menjelaskan makna modalitas yang ada dalam bahasa Simalungun.

III. Tinjauan Pustaka.
Ada banyak buku yang menjelaskan pengertian atau tafsiran tentang modalitas dalam berbagai bahasa. Pada pembahasan ini penulis mengambil pengkategorian modalitas menurut Hasan Alwi yang membagi modalitas mencakup empat subkategori yaitu modalitas Intensinal, modalitas Epistemik, modalitas Deontik dan modalitas Dinamik (hal 22).
Kategori modalitas Intensional terdiri dari sub kategori modalitas Keinginan, Harapan, Ajak, Pembiaran, Permintaan, Persilaan, dan Persetujuan.
Kategori modalitas Epistemik terdiri dari sub kategori modalitas Kemungkinan, Keteramalan, Keharusan, Kepastian .
Kategori modalitas Deontik terdiri dari sub kategori modalitas Izin, dan Perintah.
Kategori modalitas Dinamik hanya terdiri dari sub kategori modalitas Kemampuan

IV. Metodologi
Pembahasan ini menggunakan data bahasa Simalungun yang diambil dari beberapa sumber secara lisan dan tulisan. Sumber tertulis berasal dari pemberian angket kepada beberapa informan dengan ciri sebagai berikut : adalah mahasiswa suku Simalungun, tinggal di Kabupaten Simalungun, dan dalam kesehariannya menggunakan bahasa Simalungun.
Adapun bentuk angket tersebut yaitu daftar yang terdiri dari kalimat yang memakai modalitas bahasa Inggris dan modalitas bahasa Indonesia. Kemudian para informan dianjurkan mencari padanan modalitas tersebut dalam bahasa Simalungun.
Untuk melihat ada tidaknya modalitas penulis juga membaca data tulisan yaitu buku ’Folklore Simalungun’ kemudian menandai atau mencurigainya, dan menuliskannya dalam daftar dan kemudian menentukan apakah data tersebut modalitas atau tidak dengan melihat ciri-cirinya. Sementara itu, penulis juga sebagai penutur asli bahasa Simalungun yang bertindak menjadi narasumber juga.
Namun, data yang didapat secara lisan dan tulisan dianggap sebagai data sementara yang masih perlu dicari kebenarannya dengan bertanya kepada beberapa informan atau melalui pengamatan langsung.
Selanjutnya setelah diyakini bahwa data tersebut adalah modalitas maka diklasifikasikanlah menurut jenis kategori modalitasnya dan setiap kategori diklasifikasikan lebih lanjut menurut subkategorinya. Pengungkapan yang dipakai hanya merupakan pengungkapan dalam kalimat.

V. Hasil dan Pembahasan.
1.Modalitas Intensional
Modalitas Intensional adalah bahasa yang digunakan pembicara untuk menyatakan sikapnya terhadap peristiwa nonaktual yang diungkapkannya. Modalitas seperti ini juga ada dalam bahasa Simalumgun, misalnya jika seseorang ingin menyatakan keinginnannya maka pembicara memakai modalitas. Seperti dapat dilihat dalm contoh berikut.
Au marosuh mangan gule. ‘Aku ingin makan gulai’.
Dengan mendengar keinginan itu, pendengar atau teman bicara terdorong untuk mengaktualisasikan apa yang diungkapkan pembicara, misalnya dengan memberikan apa yang diinginkan pembicara. Penanda modalitas ’keinginanan’ dalam bahasa Simalungun ialah kata marosuh dan masihol yang bermakna ’ingin’.

1.1 Keinginan
Penanda modalitas ’keinginan’ dalam bahasa Simalungun ialah kata verba marosuh dan masihol ’ingin’.
Au marosuh ham mandodingkon ai
Au masihol ham mandodingkon ai
Aku ingin kamu yang menyanyikannya.
Posisi verba marosuh dan masihol juga lazim ditempatkan di awal kalimat sebelum subjek.
Marosuh au ham mandodingkon ai
Masihol au ham mandodinkon ai.
Ingin aku kamu yang menyanyikannya
Kata marosuh dan masihol yang berfungsi menunjukkan keinginan sering diikuti kata uhur ’hati’ atau ’perasaan hati’ yang membentuk frasa. Posisi kata-kata tersebut juga bisa saling bergantian. 
Marosuh uhurhu ham mandodingkon ai
Masihol uhurhu ham mandodingkon ai
Ingin hatiku kamu yang menyanyikannya.
Uhurhu marosuh ham mandodingkon ai.
Uhurhu masihol ham mandodingkon ai
Hatiku ingin kamu yang menyanyikannya.
Kata /frasa uhur atau nini uhurhu bisa juga berdiri sendiri tanpa ada kata marosuh atau masihol yang berfungsi menyatakan keinginan.
Uhurmu ham ma mandodingkan ai
Hatiku mau kamu yang menyanyikannya
Piga dokah nini uhurmi au mangkorjahon ai
Berapa lama keinginanmu aku mengerjakan itu.
Kata marosuh dan masihol ’menginginkan’ dapat juga disingkat dengan kata rosuh dan sihol ’ingin’adalah kata yang menjelaskan suasana hati sepert contoh ini
Rosuh do uhur hu ham mandodingkon ai
Sihol do uhur hu ham mandodingkon ai
Uhurhu namin ham ma mandodingkon ai
Ingin hatiku kamu yang menyanyikannya.
Pemberian suffik -an untuk kata rosuh dan sihol dapat digunakan untuk mengungkapkan keinginan yaitu rosuhan dan siholan yang bermakan ’lebih ingin’. Hal ini dapat dilihat dalm contoh berikut.
Rosuhan do uhur hu ham mandodingkon ai
Siholan do uhur hu ham mandodingkon ai.
Aku lebih ingin kamu yang menyanyikannya.
Bagian tuturan yang dikenai negasi adalah kata/frasa yang menyatakan modalitas. Penegasian kata-kata itu ialah dengan kata seng, lang ’tidak’. Lang dan seng digunakan dengan kata marosuh sedangkan kata masihol disingkat menjadi kata sihol. Misalnya dalam kalimat berikut:
Au lang/ seng marosuh modom
. Au lang / seng sihol modom
Aku tidak ingin tidur
Lang / seng marosuh au modom
Lang / seng sihol au modom
Tidak ingin aku tidur
Kalimat yang mempunyai kata/frasa uhur atau uhurhu untuk menunujukkan keinginan , penegasiannya tetap dengan kata lang atau seng dan posisinya sebelum kata marosuh atau masihol.
Lang /seng marosuh uhurhu modom
Lang / seng sihol uhurhu modom
Tidak ingin hatiku tidur.
Uhurhu lang / seng marosuh modom
Uhurhu lang / seng sihol modom
Hatiku tidak ingin tidur


1.2.Harapan
Modalitas ’harapan’ dinyatakan dengan verba dan adverbia . Verba yang menyatakan modalitas ’harapan’ yaitu kata/frasa arap, mangarap atau mangarapkon . 
Arap do uhurhu ham sehat
Harap hatiku anda sehat
Au mangarap ham sehat
Aku berharap anda sehat
Au mangarapkon ham sehat
Aku lebih berharap anda sehat

Adverbia yang menyatakan harapan adalah kata andohar yang bermakna ’semoga’, dan khusus kata andohar tidak mendapat negasi
Andohar ma ham sehat
Semoga kamu sehat 
Penanda modalitas harapan yang dapat dinegasikan adalah yang dinyatakan dengan verba. Yang dinyatakan dengan adverbia tidak dinegasikan.
Au lang / seng mangarap ham sehat
Au lang / seng mangarapkon ham sehat
Aku tidak berharap / mengharap kamu sehat.

1.3 Ajakan
’Ajakan ’adalah ungkapan pelaku terhadap tindakan yangg ditujukan terhadap persona kedua atau teman bicara. Dalam bahasa Simalungun, ajakan biasanya dinyatakan dengan kata eta ’ ayo’atau ’ayolah’. Kata eta hanya dapat diikuti oleh persona kedua tunggal ham ’anda’ dan persona pertama jamak hita ’kita’.
Eta ham marsoban
Ayo anda? mencari kayu
Eta (ma) hita marsoban
Ayo(-lah) kita mencari kayu
Eta (ma) mangan inang
Ayo(-lah) makan bu.
1.4 Pembiaran
‘Pembiaran’ adalah ungkapan sikap pembicara untuk menghentitkan perbuatan yang akan dilakukan oleh teman bicara karena pembicara tidak menghendaki perbuatan itu tetapi tidak diucapkan secara nyata. Kata kata pembiaran yang digunakan dalam bahasa Simalungun adalah verba paturut dan pasombuh.
Paturut ham ma ia mangan
Pasombuh ham ma ia mangan
Biarkanlah ia makan.
Penegasian modalitas pembiaran hanya menambah kata ulang / seng sebelum verba paturut atau pasombuh.
Ulang / seng paturut ham ia mangan lobeinan.
Ulang / seng pasombuh ham ia mangan lobeinan.
Jangan biarkan dia makan lebih dulu.

1.5 Permintaan /Persilaan
’Permintaan’ atau persilaan menggambarkan sikap pembicara yang menghendaki teman bicara atau orang lain melakukan sesuatu. ’Permintaan’ atau ’persilaan’ ada yang seperti ’perintah’ dengan hanya menekan atau mempertegas verba dengan kata ma / nema . Dalam mengungkapkan kata/frasa permintaan atau persilaan membutuh intonasi yang lebih lembut dan lambat dibanding dengan kalimat biasa.
Basa ma, buku in 
Bacalah buku itu
Nema, basa buku in
Ayolah baca buku itu
Penambahan kata hon pada kalimat sebelumnya sedikit lebih memaksakan kehendak pembicara untuk orang lain melakukannya segera.
Basahon ma buku in.
Bacakanlah buku itu
‘Pembiaran’ atau ‘persilaan’ akan menjadi halus apabila ditambah dengan kata lobei dan lojo yang bermakna ‘dulu’
Basahon ma lobei buku in.
Basahon ma lojo buku in.
Bacakanlah dulu buku itu.
1.6 Persetujuan
‘Persetujuan’ menggambarkan sikap pembicara yang dengan sukarela menyetujui sesuatu yang akan dilakukan oleh teman bicara.
Kata yang sering digunkan dalam bahasa Simalungun adalah dear, kadang kala kata dear ditambah dengan kata/frasa lain seperti - ma, - ma anggo sonai untuk memperjelas persetujuan pembicara 
Dear ma ai, patar hita mulak.
Baiklah itu, besok kita pulang.
Dear ma anggo sonai, patar hita mulak
Baiklah kalau begitu, besok kita pulang

2.Modalitas Epistemik.
Modalitas Epistemik ialah sikap pembicara yang didasari oleh keyakinan atau kekurang yakinannya terhadap kebenaran satu proposisi. Hal seperti ini juga ada terdapat dalam bahasa Simalungun misalnya,
Ra ma roh sidea tongkin nari
Mungkin datang mereka sebentar lagi. 
Sikap pembicara yang didasari oleh kekurangyakinan terhadap kebenaran proposisi dapat menimbulkan: kemungkinan, keteramalan, keharusan dan kepastian.

2.1.Kemungkinan
Makna modalitas kemungkinan dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan kata ra atau hira yang berarti ’mungkin’atau ’perkiraan’ 
Ra boi do inang roh patar
Hira boi do inang roh patar
Mungkin bisanya mamak datang besok

Patar boi do ra inang roh
Besok bisanya mungkin mamak datang
Penegasian modalitas epistemik kemungkinan dalam bahasa Simalungun digunakan kata lang dimana kata lang / seng dipakai sebelum kata ra atau hira.
Lang / seng ra boi inang roh patar
Tidak mungkin bisa mamak datang besok
Patar lang / seng ra boi inang roh besok
Besok tidak mungkin bisa mamak datang


2.2.Keteramalan
’Keteramalan’ mencerminkan sikap pembicara yang lebih yakin terhadap ’kebenaran’ proposisi daripada ’kemungkinan’. Atau dengan kata lain ’kemungkinan’ menggambarkan sikap pembicara yang lebih ragu terhadap’kebenaran’. Dalam bahasa Simalungun ’keteramalan’ ditandai dengan kata hira, agat ,arap dan ahap yang bermakna ’ramalan’ atau ’perkiraan .’
Hu hira domma puho bapa.
Hu agat domma puho bapa
Hu arap domma puho bapa
Hu ahap domma puho bapa
Aku kira sudah bangun bapak
Penegasian untuk kata hira, agat, arap, ahap, hanya menambah kata lang / seng yang dipakai sebelum verba.
Lang / seng hu hira domma puho bapa.
Lang / seng hu agat domma puho bapa
Lang / seng hu arap domma puho bapa
Lang / seng hu ahap domma puho bapa
Tidak aku kira sudah bangun bapak

2.3.Keharusan
Modalitas epistemik ’keharusan’ dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan keterangan menjelaskan verba, atau inti dari predikat, seperti kata maningon yang berarti ’harus’ patut dan porlu yang berarti mestinya. Kata maningon lebih keras daripada kata patut dan porlu. Hal ini nampak dalam contoh berikut.
Maningon marsahap do hanami.
Kami harus berbicara.
Ai maningon podas do suang use ai.
Itu harus cepat kembali lagi
Patut do ham roh
Porlu do ham roh
Mestinya anda datang
Penegasian untuk kata maningon, patut dan perlu hanya menambahkan kata lang / seng sebelum kata-kata tersebut.
Lang / seng maningon roh ham.
Tidak harus datang anda
Lang/ seng patut ham roh
Lang / seng porlu ham roh
Tidak mestinya anda datang
2.4.Kapastian
‘Kepastian’ menggambarkan sikap pembicra yang merasa pasti atau yakin bahwa proposisi yang diungkapkannya benar. Kepastian adalah modalitas epistemik yang paling tinggi tingkat rasa ‘pasti’ atau ‘yakin’ pembicara, dibanding yang lain seperti ‘kemungkinan’, ‘keteramalan’ dan ‘keharusan’. Dalam bahasa Simalungun kata pasti sering dipakai untuk menyatakan kepastian atau keyakinan, dimana kata pasti juga mungkin berpengaruh dari bahasa Indonesia. Sama seperti kata tontu yang berasal dari kata’tentu’ dalam bahasa Indonesia.
Pasti do ia mulak patar
Tontu do ia mulak patar
Pasti dia kembali besok.
Selain kata pasti dan tontu diatas ada lagi kata/frasa yang menunjukkan kepastian yaitu kata pos yang sering diikuti kata uhur (hati/heart yang berhubungan dengan perasaan) atau porsaya yang mungkin berasal dari kata ‘percaya’.
Pos ma uhurmu mulakk do ia patar
Porsaya ma ham mulak do ia patar
Yakinlah dia kembali besok
Kadangkala kalimat di atas di ikuti lagi ole kata pasti (redundant), yang menyatakan tingkat keyakinan yang paling tinggi.
Pos ma uhur mu pasti do ia mulak patar
Porsaya ma ham pasti do ia mulak patar
Yakinlah pasti dia kembali besok
Penegasian kepastian dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan menambah lang seng pada modalitas pasti, tontu, dan kata ulang untuk kata/frasa pos uhur dan porsaya berarti ‘jangan’.
Lang / seng pasti ia mulak patar
Lang / seng tontu ia mulak patar
Tidak pasti dia kembali besok.
Lang pos uhurhu mulak ia patar
Lang porsaya uhurhu mulak ia patar
Aku tidak yakin dia kembali besok
Ada pengungkap ketidak yakinan dalam bahasa Simalungun yang dinyatakan dengan kata gobir dan sangsi, dimana kata kata tersebut dapat berdiri sendiri, tidak memakai negasi lang tetapi mengandung makna negative.
Gobir do uhurmu bangku
Sangsi do ham bangku
Tidak yakinnya anda sama saya.

3.Modalitas Deontik
Kaidah sosial berupa kewenangan pribadi atau kewengan resmi dapat mendasari sikap pembicara terhadap peristiwa disebut dengan modalitas deontik. Kewenangan pribadi ditimbulkan oleh adanya perbedaan usia, jabatan, atau status sosial, sedangkan kewenangan resmi berasal dari ketentuan atau peraturan yang telah disepakati bersama.
Dengan demikian, pembicara berperan sebagai sumber deontik yang mengizinkan, memerintahkan atau melarang terjadinya suatu peristiwa atau perbuatan. Hal itu dapat dilihat pada contoh berikut.
Hu bere ma hanimi mulak parlobei
Ku izinkanlah kalian pulang duluan

3.1.Izin
Izin memperlihatkan ciri makna yang menggambarkan bahwa teman bicara akan berperan sebagai pelaku, tetapi dalam bahasa Simalungun hal itu dapat dilakukan orang kedua atau ketiga. Pengungkapan modalitas izin ini diberi penanda dengan kata bere, paturut.
Bere ma au laho hu tiga
Paturut ma au laho hu tiga 
Izinkanlah saya pergi ke pekan
Bere ma ia laho hu tiga
Paturut ma ia laho hu tiga
Izinkanlah dia pergi ke pekan 
Penegasian modalitas izin ini hanya menambahkan kata ulang sebelum modalitas yang berarti tidak memberi izin atau larangan.
Ulang bere ia laho hu tiga
Ulang paturuti ia laho hu tiga
Jangan izinkan dia pergi ke pekan
Ulang bere ia laho hu tiga
Ulang paturut ia laho hu tiga
Jangan izinkan dia pergi ke pekan
3.2.Perintah
‘Perintah’ memperlihatkan persaman dengan ‘izin’ dalam hal kedudukan pembicara sebagai sumber deontik dan kedudukan teman bicara sebagai pelaku aktualisasasi peristiwa. Pengungkapannya berbeda karena ‘perintah’ dalam bahasa Simalungun dinyatakan dengan kalimat imperative.
‘Perintah’ tidak hanya diartikan sebagai ‘perintah untuk melakukan sesuatu’, tetapi juga sebagai ‘perintah untuk tidak melakukan sesuatu’ yang disebut ‘larangan’.
Kata yang dipakai untuk melarang dalam bahasa Simalungun ialah kata ulang yang bermakna ‘jangan’, seperti contoh :
Ulang jolom boras in
Jangan pegang beras itu

4.Modalitas Dinamik
Sama halnya dengan modalitas deontik, modalitas dinamik juga mempersoalkan sikap pembicara terhadap aktualisasi peristiwa. Akan tetapi, pada modalitas dinamik aktualisasi pristiwaitu ditentukan oleh perikeadaan yang bersifat empiris,sedangkan pada modalitas deontik ialah kaidah sosial. Jadi modalitas dinamik bersifat objektif dan modalitas deontik berciri subjektif. Ciri makna yang demikian ada dalam bahasa Simalungun yang tampak pada pemakaian kata boi, sanggup dimana kata sanggup mungkin juga pengaruh dari bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dalam contoh berikut.
Boi do bana paluah dirina
Sanggup do bana paluah dirina
Dia dapat melepaskan dirinya
4.1 Kemampuan
Kemampuan pada modalitas dinamik dapat dinyatakan dengan pemakain kata boi, sanggup dan bulih . Kata bulih hanya dipakai untuk makna negasi yang bermakna ’tidak boleh’.
Boi do ipalopus si Jonaha batu ai hulopahhulopah
Sanggup do ipalopus si Jonaha batu ai hulopahlopah
Si Jonaha dapat menyeberangkan batu itu ke sebelah kanan dan kiri 
Penegasian modalitas kemampuan hanya dengan menambah kata lang /seng pada kata modalitas kemampuan.
Lang / seng boi ipalopus si Jonaha batu ai hulopahhulopah
Lang / seng sanggup ipalopus si Jonaha batu ai hulopahlopah
Lang / seng bulih ipalopus si Jonaha batu ai hulopahlopah
Si Jonaha tidak dapat menyeberangkan batu itu ke sebelah kanan dan kiri.


VI. Kesimpulan Dan Referensi.
Kesimpulan.
Dari pembahasan modalitas dalam bahasa Simalungun ini dapat disimpulkan bahwa modalitas dalam bahasa Simalungun √°dalah sebagai berikut.
1. Modalitas dalam bahasa Simalungun sebagian dinyatakan dengan kata. Selain itu, modalitas dalam bahasa Simalungun ada yang dinyatakan dengan frasa, tetapi jumlahnya hanya beberapa tidak sebanyak yang dinyatakn dengan kata. Kata-kata atau frasa yang menyatakan modalitas itu disebut penanda modalitas.
2. Penanda modalitas itu dikelompokkan menjadi empat yakni (1) penanda modalitas intensional, (2) penanda modalitas epistemik, (3) penanda modalitas deontik, dan (4) penanda modalitas dinamik.

(1). Modalitas Intensional
No. Makna Pengungkap modalitas
1.keinginan
ingin marosuh
masihol
ingin hatiku marosuh uhurhu
masihol uhurhu
hatiku ingin uhurhu marosuh 
uhurhu masihol
kata hatiku nini uhurhu
inginnya hatiku rosuh uhurhu
sihol uhurhu
lebih ingin rosuhan uhurhu
siholan uhurhu

2. harapan
(ber)harap arap
berharap mengarap
lebih berharap mengarapkon
semoga andohar
3. ajakan
ayo eta
4. pembiaran
biarkan paturut 
pasombuh
5. permintaan
ayolah nema
- ma
- hon
6. persetujuan
baiklah dear ma

(2). Modalitas Epistemik
No Makna Pengungkap modalitas
1. kemungkinan
mungkin hira / ra
2. keteramalan
perkiraan / kira hira
agat
arap
ahap
3.keharusan 
harus maningon
mestinya patut
porlu 
4.kepastian
pasti pasti
tontu
yakin pos uhur
percaya porsaya


(3). Modalitas Deontik
No Makna Pengungkap modalitas
1. izin
izinkan bere
paturut

(4). Modalitas Dinamik
No Makna Pengungkap modalitas
1. kemampuan 
dapat boi
sanggup sanggup
tidak dapat lang / seng bulih

C. Penegasian pada penanda modalitas dilakukan dengan kata negasi ulang , lang dan
seng yang diletakkan di depan penanda modaliats yang bersangkutan. Kata ulang juga bisa berarti ’jangan’.

makalah sastra indonesia

Inspirasi : Pendidikan untuk anak-anak
Mei 17, 2009 — Wahidin 

Ini saya posting tulisannya Dorothy L. Nolte tentang pendidikan untuk anak-anak.

Semoga bermanfaat dan dapat menginspirasi anda semua :

Jika anak-anak hidup dengan kritikan, mereka belajar untuk mengutuk.
Jika anak-anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan.
Jika anak-anak hidup dengan rasa takut, mereka belajar untuk menjadi memprihatinkan.
Jika anak-anak hidup dengan belas kasihan, mereka belajar untuk merasa menyesal sendiri.
Jika anak-anak hidup dengan olokan, mereka belajar untuk merasa malu.
Jika anak-anak hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri hati.
Jika anak-anak hidup dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah.
Jika anak-anak hidup dengan semangat, mereka belajar percaya diri.
Jika anak-anak hidup dengan toleransi, mereka belajar kesabaran.
Jika anak-anak hidup dengan pujian, mereka belajar apresiasi.
Jika anak-anak hidup dengan penerimaan, mereka belajar untuk cinta.
Jika anak-anak hidup dengan persetujuan, mereka belajar seperti itu sendiri.
Jika anak-anak hidup dengan pengakuan, mereka belajar bagus untuk memiliki tujuan.
Jika anak-anak hidup dengan berbagi, mereka belajar kedermawanan.
Jika anak-anak hidup dengan kejujuran, mereka belajar sebenarnya.
Jika anak-anak hidup dengan keadilan, mereka belajar keadilan.
Jika anak-anak hidup dengan baik-baik, mereka belajar menghargai.
Jika anak-anak hidup dengan keamanan, mereka belajar untuk memiliki iman dalam diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.
Jika anak-anak hidup dengan keramahan, mereka belajar di dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup.

oleh Dorothy Law Nolte (1924 – 2005)
Ditulis dalam Info Islam, Makalah Belajar Dan Pembelajaran, Makalah Bimbingan Konseling, Makalah Evaluasi Pembelajaran, Makalah Filsafat, Makalah Filsafat Pendidikan, Makalah Kurikulum Dan Pembelajaran, Makalah PKn, Makalah Pedagogik, Makalah Penelitian Tindakan Kelas, Makalah Pengelolaan Kelas, Makalah Pengelolaan Pendidikan, Makalah Perencanaan Pembelajaran, Makalah ilmu Pendidikan, info, makalah Manajemen Pendidikan, makalah bahasa indonesia, makalah bahasa sunda, makalah ilmu bahasa, makalah pembelajaran mikro, makalah pembelejaran terpadu, makalah sosiologi, makalh pendidikan anak berkebutuhan khusus. Tag: pendidikan anak. 8 Komentar »
8 Tanggapan ke “Inspirasi : Pendidikan untuk anak-anak” 
Jayadi Gusti Says: 
Mei 17, 2009 pukul 10:46 am 

Karena itulah Rasul bersabda : “Tidak ada kado paling istimewa yang diberikan orangtua kepada anaknya melebihi pendidikan yang baik.”

“Kewajiban setiap orangtua terhadap anaknya adalah memberinya nama yang baik, memberinya tempat tinggal yang layak, dan memberinya pendidikan yang baik.”

Namun, lagi-lagi kebodohan dan sikap tidak mau tahu yang sering menghalangi!

bahasa dan sastra indonesia